Ngaji Bareng Yuk: “Anak Ayam Dalam Cangkang Telur”

Posted on

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Seperti yang saya sampaikan di dalam profil blog, selaku seorang muslim saya juga ingin berbagi dan belajar bersama tentang ilmu keislaman kepada teman-teman semua. Namun saya bukanlah seorang yang ahli, hanya berbagi apa yang pernah saya terima dan insyaAllah bermanfaat bagi kita semua. InsyaAllah setiap Kamis Malam doakan saya bisa berbagi hikmah dalam forum Ngaji Bareng Yuk! ini. Untuk bahasan pertama kamis ini kita coba mengupas bagaimana sikap manusia terhadap keberadaan akhirat dengan perumpamaan “Anak Ayam Dalam Cangkang Telur”.

Suatu ketika saya bertamu ke rumah seorang Ustadz, saya sungguh beruntung mendapatkan sebuah tausiyah ringan tapi cukup mendalam maknanya. Mungkin teman-teman sekalian banyak atau pernah mengetahui kisah dari sebuah hadits Rasulullah saw. yang riwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW membandingkan antara dunia dan surga.

Sabda beliau, “Kavling yang paling kecil di surga nanti adalah seperti dunia ini ditambah sepuluh kali lipatnya.” (HR. Muslim)

Setelah itu Ust. menjelaskan, dengan sabda Rasulullah saw. ternyata ada sikap beberapa orang yang bertanya-tanya dimana letak surga yang katanya 1 kav = 10 x dunia itu, sedangkan dengan luasnya dunia ini saja seorang yang kaya-rayapun kayaknya belum ada yang pernah dan sanggup mengunjung setiap negara-negara di bumi ini secara men-detail sepanjang hayatnya.

Pertanyaan orang tersebut mencerminkan keraguannya atas adanya alam surga sebagaimana yang diilustrasikan oleh Nabi saw. Dan orang tersebut mewakili salah satu dari tiga tipe orang dalam menyikapi surga khususnya, dan alam akhirat umumnya.

Baca juga:  Ngaji Bareng Yuk: Merenungi Bencana yang Datang

Ibarat anak ayam yang masih berada di dalam cangkang telur, begitulah manusia di dunia ini. Ibaratnya, anak ayam yang masih belum menetas itu diberi tahu bahwasanya setelah tiba saatnya nanti, ia akan keluar meninggalkan cangkang telur ayam tersebut, dan akan masuk ke dalam alam dunia yang luasnya jauh bermiliar-miliar lebih besar daripada dunianya di dalam cangkang telur yang ia berada sekarang ini.

Dalam menyikapi berita tersebut dapat dibagi menjadi tiga tipikal anak ayam, diantaranya adalah:

Pertama, anak ayam yang sama sekali tidak percaya terhadap berita itu. Menurutnya mana-mungkin ada alam yang sebesar itu, sedangkan di dalam cangkang telur ayam itu rasanya sudah cukup luas.

Kedua, anak ayam yang tidak mau tahu-menahu akan adanya berita itu. Mau ada alam yang lebih luas dari cangkangnya kek atau tidak, sama saja menurutnya. Baginya, itu adalah urusan nanti. Jadi tidak perlu pusing-pusing memikirkanya, jalani saja.

Dan yang Ketiga, anak ayam yang percaya dengan mutlak bahwa apa yang diberitahukan kepadanya itu benar. Alasannya, pihak yang memberi tahu itu adalah pihak yang dipercaya (al amin). Maka, kendati ia belum pernah melihat alam itu, ia pun percaya hal itu sepenuhnya. Sebagai bukti atas keyakinannya itu, ia pun membuat persiapan-persiapan untuk memasuki alam tersebut nantinya.

Setelah tiba masanya, ketiga anak ayam itu akan meninggalkan dunia telur ayam dan masuk ke alam dunia. Dan anak ayam yang pertama dan kedua baru percaya bahwa apa yang pernah diberitahukan kepada mereka itu benar.

Baca juga:  Belajar dari 'Aidh Al-Qarny Menghadapi Pendengki

Begitulah manusia di dunia ini, bagaimana mereka mensikapi adanya alam surga nanti. Ada yang tidak percaya, tidak tahu menahu, dan percaya sepenuhnya. Bila sudah tiba saatnya, mereka akan keluar dari alam dunia ini, dan masuk ke alam akhirat yang luasnya jauh lebih besar dari dunia ini. Dan dari tiga tipe manusia itu, hanya satu yang akan tinggal di surga, yaitu tipikal orang ketiga; yang percaya dan mempersiapkan diri untuk kehidupan selanjutnya.

Marilah hal ini dapat dijadikan renungan bagi kita semua termasuk diri-pribadi saya, apakah kita sudah termasuk orang-orang yang memiliki pemahaman seperti tipikal anak ayam yang ketiga atau malah sebaliknya?

Wallahua’lam bishawab

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Gravatar Image
Seorang suami, ayah & paman dari keluarga kecil yang bahagia, yang bercita-cita menjadi wirausahawan yang sukses, ingin mengangkat perekonomian di desa dengan cara yang kreatif

7 thoughts on “Ngaji Bareng Yuk: “Anak Ayam Dalam Cangkang Telur”

  1. @shuenk & Ocho99:
    amin ya Rabb, kabulkanlah doa kami

    @ aanhamzah & kang maskur:
    Thx supportnya bro & mohon koreksinya jika ada yg salah, tapi temen2 di banyumas juga banyak kok yg ngajine lbh mantep, saya banyak belajar dari mereka 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *